Wednesday, December 17, 2014

A Promise

Well, as i said before, about my writing, which i submitted to a writing competition and bring me to be a winner. The theme was "Make a Better Change Together". If you're curious, well, here it is ...

SATU
by Meyriandini Suci Lestari



Satu. Empat huruf yang kita tahu maksud namun untuk arti, apa itu satu? Menjadi ke-satu biasanya selalu diartikan besar atau diagung-agungkan. Itu menurut kumpulan dari beberapa pemikiran dari beberapa orang yang menjadi stereotype. Tapi, apa benar kata “satu” selalu besar? Apa benar kata “satu” selalu benar? Kata siapa menjadi satu itu selalu baik? Kita lihat saja sekarang, Tuhan yang Maha Satu saja punya malaikat-malaikat yang menolong-Nya. Lalu, kembali lagi ke awal, apa itu satu?

Terlalu berat membicarakan permasalahan yang ada di Indonesia. Negara berkembang tentu saja mengalami banyak permasalahan. Jangankan sebuah negara, sebagai satu individu yang sedang berkembang saja permasalahan kecil bisa menjadi bibit penyakit, bukan? Sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki rasa, cipta dan karya, akan lebih baik semua digunakan untuk kepentingan bersama. Jadi, tidak ada salahnya memperhatikan permasalahan tersebut. Toh selama kita bernafas, udara yang kita hirup juga milik Indonesia. Tanah yang kita pijak juga bumi Indonesia. 

Mengatasi permasalahan di indonesia sama saja seperti menguraikan benang kusut. Satu persatu dibenarkan bagaimana supaya menjadi lurus kembali. Bukan, saya bukan orang yang mengerti tentang politik dengan baik atau sejarawan yang paham tentang asal mula permasalahan ini terjadi. Saya juga bukan termasuk dalam kaum ulama atau cendikiawan yang ucapannya selalu benar dan di dengar. Tapi, perbaikan Indonesia ke arah yang lebih baik, orang buta saja yang tidak bisa melihat tahu bagaimana bisingnya suara di negara ini, bagaimana tidak sedapnya aroma di negara ini. Tidak butuh otak pintar dalam memecahkannya bukan? Lagi, dimana itu satu?

Banyak orang mengeluh mengapa Indonesia tidak bisa seperti negara lain. Bukankah itu sama saja dengan masuk kedalam lubang yang kita gali sendiri? Banyak hal yang bisa menjadikan negara ini lebih baik. Salah satunya adalah permasalahan transportasi. BBM naik, demo terjadi. Harga rokok naik? Damai sekali terasanya. Kendaraan yang lalu lalang itu memang punya majikan. Memang ada yang mengatas namakan. Tapi, kalau yang naik bukan keluarga si empunya saja? Masa tidak ada sedikit rasa memiliki? Kucing kampung yang kita rawat sejak kecil saja seringkali disebut sebagai “kucing saya”. 

Tidak akan bisa “satu” menyelesaikan masalah jika tidak bersatu. Disinilah apa arti dari satu. Tidak perlu diartikan dengan kata-kata, tapi sebagai makhluk yang diberikan pikiran, tentu kita tahu makna dari satu. Satu orang menyisihkan uang sehari lima ribu untuk perbaikan alat transportasi umum. Bisa hingga gossip kesekian mengenai kiamat tahun sekian baru mendapatkan mobil bis yang nyaman. Namun, jika setiap satu bergabung, setiap satu ditambah satu dan seterusnya menyisihkan, bukankah itulah makna dari satu yang diagungkan, dibesar-besarkan? Bayangkan berapa banyak keuntungan yang akan terjadi jika sarana transportasi kita jadi lebih baik, lebih bagus, seperti negeri tetangga. Jadi tidak hanya rumput mereka saja yang hijau, kita pupuk rumput kita, lama-lama akan menjadi hijau juga, kan? Kemacetan tidak akan terjadi, semua orang nyaman menggunakan transportasi. Tidak harus mengeluarkan uang untuk membayar bahan bakar minyak yang naik 20%. Tapi, kalau itu hanyalah sebuah ide yang datang dari sel-sel otak saya, menjadikan rumput Indonesia sehijau negeri tetangga juga hanyalah sebuah ide.

Lalu, apa perlu saya seperti Cinta yang berlari dulu kehutan kemudian belok kepantai demi mendapatkan dukungan?

Tuesday, December 16, 2014

December's Light

Good day, busy people and welcome December ! I don't know whether i should be sad or happy in facing twenty fifteen just in few days ... Well, anyway, let's forget about that a while and we celebrate this December's light :)

R.A Kartini (Indonesian National Heroine), once said :

"Door Duisternis tot Licht (Out of Dark Comes Light)"

It is oh so so so true ! I've experienced it, anyway. Remember my old posts about the sadness and kind ? haha, i'm sooo ashamed if i reread it. Sorry for the pecimistic words, guys. I didn't mind to. But, as it said, Out of dark comes light. Well, let the story begins...

the teams :)
It was just a coincidence, i may say. It was saturday, if it's not mistaken, i was only spend my saturday night at home, and opened my twitter account. So, it was Dewi Lestari, who posted something about writing competition. The winner will get a chance to make an e-book with a help from her. It was very interesting for me, since Dewi Lestari is one of my forever and ever and ever and ever inspirations in my life. Supernova isn't first novel i read, but it is first novel i read it untill i finished it in two days, where that was amazing for me. It took me about a week to finish a novel or even month or even some years. So it was an achievement for a high school freshmen to finish a novel in two days, i wondered. The more i read that, the more curious i got. That is the first novel that i want to read over and over again. Well, i used to reread comic over and over again -_- haha, so that was like... OMG?! Back to the story, so i decided to join and send it. It was a last day to submit a story. 2 hours before 00.00, i submit my story. *p.s i will post my story here as well hehe ..

I really didn't think that i will get a chance to be one of finalists, until LOOP KEPO teams contacted me and said that i was one of the finalists. The rule is only one, you have to attend the LOOP schedule from December 11-14. I was undoubtedly said yes.. until the virus comes in. &*^%$ ?! I was just like oh my dear and kind God, what was happened? I resigned and said to the team that i couldn't make it because i was .. sick. :( . It was impossible to joined, moreover to be a winner. To be one of the finalists was already make myself proud of my writing. well, at least, i tried, i thought. Until the LOOP teams, which are soo soo soo soo soo sooo sooo soooo soooo sooo very kind-hearted :"" also Sinergi Muda teams which are so friendly, contacted me, again. So, they called me again that i could come to the judging time only and go back home for rest. 

 
 because hapiness as simple as taking a picture with these talented writers (le-ri : Bena, Dewi Lestari, Me, Raditya Dika)

It was Dewi Lestari, who became one of the judges. How in the world could i not be nervous ?! I felt like shaking and didn't remember about words to words i should tell, about my writing of course. haha, but it is not Dewi Lestari if she's not soo soo soo soo soo amazingly good and nice and kind and any other good things that i should say. She is sooo soo soo very friendly and nice and knew me so well that i was nervous hehe. So after judging time, the day after i heard my name was said loudly as one of the winners. 

forgive my expression -___- lol



 photo credit to: kak Gilang

Being one of the finalists, i already got a lot of lessons, new friends, and amount of money. It already felt like i was a winner when it was just a finalist. Thankyou so much Allah. :"""") Again, this experience will be one of best things that happened in my life, seriously. Again, Thank You so so so so so so so so so so so so much, Allah. Alhamdulillaah :D



More thing like a bonus is... BOYCE AVENUE !!! here is some picts i captured from the utter cool night that day .. It was like buy one get two free haha...

 
p.s. my nephew just sent me a video thru facebook and it said that i am an awesome person. Thankyou abang :*