SATU
by Meyriandini Suci Lestari
Satu. Empat huruf yang kita tahu
maksud namun untuk arti, apa itu satu? Menjadi ke-satu biasanya selalu
diartikan besar atau diagung-agungkan. Itu menurut kumpulan dari beberapa
pemikiran dari beberapa orang yang menjadi stereotype.
Tapi, apa benar kata “satu” selalu besar? Apa benar kata “satu” selalu benar?
Kata siapa menjadi satu itu selalu baik? Kita lihat saja sekarang, Tuhan yang
Maha Satu saja punya malaikat-malaikat yang menolong-Nya. Lalu, kembali lagi ke
awal, apa itu satu?
Terlalu berat membicarakan
permasalahan yang ada di Indonesia. Negara berkembang tentu saja mengalami
banyak permasalahan. Jangankan sebuah negara, sebagai satu individu yang sedang
berkembang saja permasalahan kecil bisa menjadi bibit penyakit, bukan? Sebagai
ciptaan Tuhan yang memiliki rasa, cipta dan karya, akan lebih baik semua
digunakan untuk kepentingan bersama. Jadi, tidak ada salahnya memperhatikan
permasalahan tersebut. Toh selama kita bernafas, udara yang kita hirup juga
milik Indonesia. Tanah yang kita pijak juga bumi Indonesia.
Mengatasi permasalahan di
indonesia sama saja seperti menguraikan benang kusut. Satu persatu dibenarkan
bagaimana supaya menjadi lurus kembali. Bukan, saya bukan orang yang mengerti
tentang politik dengan baik atau sejarawan yang paham tentang asal mula
permasalahan ini terjadi. Saya juga bukan termasuk dalam kaum ulama atau
cendikiawan yang ucapannya selalu benar dan di dengar. Tapi, perbaikan Indonesia
ke arah yang lebih baik, orang buta saja yang tidak bisa melihat tahu bagaimana
bisingnya suara di negara ini, bagaimana tidak sedapnya aroma di negara ini.
Tidak butuh otak pintar dalam memecahkannya bukan? Lagi, dimana itu satu?
Banyak orang mengeluh mengapa
Indonesia tidak bisa seperti negara lain. Bukankah itu sama saja dengan masuk
kedalam lubang yang kita gali sendiri? Banyak hal yang bisa menjadikan negara
ini lebih baik. Salah satunya adalah permasalahan transportasi. BBM naik, demo
terjadi. Harga rokok naik? Damai sekali terasanya. Kendaraan yang lalu lalang
itu memang punya majikan. Memang ada yang mengatas namakan. Tapi, kalau yang
naik bukan keluarga si empunya saja? Masa tidak ada sedikit rasa memiliki?
Kucing kampung yang kita rawat sejak kecil saja seringkali disebut sebagai
“kucing saya”.
Tidak akan bisa “satu”
menyelesaikan masalah jika tidak bersatu. Disinilah apa arti dari satu. Tidak
perlu diartikan dengan kata-kata, tapi sebagai makhluk yang diberikan pikiran,
tentu kita tahu makna dari satu. Satu orang menyisihkan uang sehari lima ribu
untuk perbaikan alat transportasi umum. Bisa hingga gossip kesekian mengenai
kiamat tahun sekian baru mendapatkan mobil bis yang nyaman. Namun, jika setiap
satu bergabung, setiap satu ditambah satu dan seterusnya menyisihkan, bukankah
itulah makna dari satu yang diagungkan, dibesar-besarkan? Bayangkan berapa
banyak keuntungan yang akan terjadi jika sarana transportasi kita jadi lebih
baik, lebih bagus, seperti negeri tetangga. Jadi tidak hanya rumput mereka saja
yang hijau, kita pupuk rumput kita, lama-lama akan menjadi hijau juga, kan?
Kemacetan tidak akan terjadi, semua orang nyaman menggunakan transportasi. Tidak
harus mengeluarkan uang untuk membayar bahan bakar minyak yang naik 20%. Tapi,
kalau itu hanyalah sebuah ide yang datang dari sel-sel otak saya, menjadikan
rumput Indonesia sehijau negeri tetangga juga hanyalah sebuah ide.
Lalu, apa perlu saya seperti Cinta
yang berlari dulu kehutan kemudian belok kepantai demi mendapatkan dukungan?















