Sunday, February 28, 2016

Chapter 2: The "Cases"

Kali ini ada sedikit perbedaan. Saya akan bercerita mengenai sesuatu, dalam dua bahasa. Dimaksudkan agar tidak hanya orang Indonesia yang mengerti. Saya akan bercerita juga dalam bahasa Inggris. Tapi, mohon maaf sebelumnya bila ada kesalahan dalam penulisan karena pada dasarnya bahasa Inggris saya tidak sebagus dan sesempurna seharusnya. 
This time, there will be a little bit difference(s) from my previous blog posts. I will tell you about something, in dual language, so not only Indonesian can understand it. I will tell you this story in English too. But, i am sorry if there will be some mistakes or grammatical errors because basically, my English is not as good or as perfect as it should be. 


Pada awalnya saya tidak ingin mengungkit atau menceritakan masalah ini. Bukan, bukan karena saya takut ataupun karena adanya unsur dendam atau hal lain yang mungkin akan merugikan orang lain. Bukan. Tapi semua atas dasar tidak penting, hal yang tidak penting yang harus diceritakan. Hal yang tidak membanggakan sama sekali. Hal yang benar-benar tidak seharusnya diceritakan. Menceritakan hal ini seperti mengumbar aib, memang. Tapi, pada akhirnya hal ini harus saya ceritakan. Atas dasar pembersihan nama saya, teman saya, dan pelajaran untuk orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk bertingkah bodoh seperti saya.
At first, i didn't really want to bring or tell you about this story (more like problems). No, not because i am afraid of whatever i shouldn't be afraid of, nor because the revenge or hatred feeling or the other things that probably could hurt other people's feeling. No. That is not the reason. But it is because of the immateriality, the unimportant thing that shouldn't be told. The thing that couldn't be proud of. Telling this like indulgence in disgrace. Indeed. But, in the end, for the sake of vindication of me, of my friends, and it's a lesson for those who have tendency to act a fool like me. 

Orang jahat itu ada. Saya mungkin terlalu polos atau lugu yang sangat menganut paham John Locke mengenai pada dasarnya semua orang adalah orang baik. Tapi, setelah kejadian ini, saya percaya bahwa orang yang jahat memang ada. Kejadian yang saya alami, adalah kejahatan yang terjadi di dunia online shopping. Saya ditipu. Kasus yang menimpa saya adalah, saya ingin membeli kamera Polaroid Neo 90s seharga Rp 1.000.000; dengan alasan harga promo. Jujur, saya adalah tipikal orang yang tidak suka belanja, apalagi belanja online. Namun karena kamera Neo 90s adalah barang yang masuk kedalam list barang yang ingin saya beli dengan uang hasil kerja saya sendiri, ketika ada harga promo, saya langsung tertarik untuk beli. Saya mentransferkan uang saya ke nomor rekening yang diberikan oleh si penjual (atau bisa dibilang penipu). Dan karena saya ditipu, tentu saja polaroid tidak sampai ketangan saya. Saya mencari di google bagaimana menyikapi hal seperti ini dan jawabannya adalah melaporkan kepada customer service bank yang sudah saya kirimkan uang saya untuk pembelian tersebut. Jujur, saya kesal pada saat itu dan ingin membawa kasus ini lebih lanjut ke ranah hukum. Tapi, saya mencoba mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Lagipula, hukum bukanlah suatu hal yang dapat disepelekan, seperti dalam permainan dan sebagainya. Sekali anda masuk kedalam hukum, nama anda akan masuk kedalam data di kepolisian selain data anda lahir dan catatan anda berkelakuan baik. Banyak hal yang saya pikirkan dalam bersikap. Itu fungsi ilmu pengetahuan, menurut saya. Tapi ternyata masalah tidak hanya selesai sampai sini, muncul masalah-masalah lain yang merugikan saya pribadi dan orang yang saya sayangi. Saya tidak bisa tinggal diam.
Bad people do exists. I probably was too innocent or naive that i highly embrace the thought of John Locke on basically everyone is a good person. But, after this incident, I believe that evil guy do exists. The incident that I experienced, is a crime that happens in the world of online shopping. I was cheated. The case against me is, I want to buy a Polaroid camera Neo 90s worth US$ 10 by reason the promo price. Honestly, I was typical of people who do not like shopping, especially buy in online shop. However, because the polaroid Neo 90s is one of the list of items I want to buy with the money from my own work, when there is a promo price, I was immediately interested to buy. I transfered money to the account number that given by the seller (or arguably a con). And because I was cheated, certainly the polaroid was not to sent to me. I googled how to respond to things like this and the answer is to report to the bank's customer service that I have sent my money for the purchase. To be honest, I was angry at that time and would like to take this case further into the realm of law. But, I tried to leave over what had happened. Moreover, the law is not something negligible, as in the game and so on. Once you get into the law, your name will be entered into the data in the police in addition to the data you were born and your record of good behavior. A lot of things i thought in order to behave. I think that is the function of having knowledge, information. But it turns out the problem is not just finish up here, there are other problems appeared that hurt me personally and the people I love. I couldn't stay still.

1. Kasus Pertama
Saya terkena kasus penipuan, dan ini jelas adalah kasus inti dari semua kasus yang akan saya ceritakan selanjutnya. Saya membeli kamera polaroid ke orang yang bernama Yosua, dan Yosua mengirimkan no. rekening untuk dikirimkan uang sejumlah harga polaroid tersebut. Anehnya, rekeningnya atas nama X (Untuk kebaikan saya dan si empunya, mari kita sensor nama aslinya). Tuhan Maha Baik. Allah Maha Baik. Sekalipun saya mengikuti prosesnya, saya merasa bahwa saya akan ditipu dan ditolong untuk menyimpan semua bukti percakapan, dan sebagainya. Saya terlanjur sudah mengirimkan uang sebesar 1.500.000 karena saat itu dalam kondisi pulang kerja, hujan, dan panik karena diancam tidak akan ada diskon lagi setelah jam 6 malam. Karena berlebih mengirimkan uang, saya (dengan bodohnya) mengirimkan nomor rekening saya untuk minta uang saya kembali. Dan sampai malam, tidak ada pengembalian uang ataupun pengiriman barang. Saya tunggu sampai besoknya, masih tidak ada juga. Disitu saya sadar (dan disadarkan oleh teman-teman saya) bahwa saya ditipu. Untuk pertama kalinya melakukan pembelian online melalui media sosial, dan saat itu juga saya ditipu. Well...
The First Case
I am exposed fraud cases, and this is clearly a case of the core of all the cases which I will tell you next. I bought a polaroid camera to a man named Yosua, and Yosua sent account number so the buyer can transfer the sum of the price of Polaroid. Surprisingly, the account bank Yosua sent was in the name of X (For my own good and the owner, let sensor real name). God is Good. Allah is good. Although I follow the process, I felt that I would be cheated and Allah helped me to keep all evidence of the conversation, and so on. I already had sent money of  US$ 15 since it was in a state of panicked because he was threatened there will be no further discount after 6pm. Because I send excess money, I (stupidly) send my account number to ask for my money back to Yosua. And till evening, no refunds or delivery of the polaroid itself. I wait until the next day, still no package for me. There, I am aware (and awakened by my friends) that I was cheated. For the first time make purchases online through social media, and then also I was cheated.
Saya mencari penyelesaian masalah jika terkena kasus penipuan online di internet. Mungkin kalian juga bisa mencarinya, dan hasilnya adalah kebanyakan menyarankan untuk memblokir nomor rekening yang kita kirimkan uang kita. Saya tanpa pikir panjang, karena merasa dirugikan, tentu saja melaporkan ke bank terkait tentang No. Rekening atas nama X. Namun tidak hanya sampai disitu karena saya harus mengirimkan beberapa berkas untuk pemblokiran. Saya, pada saat itu, hanya melaporkan kalau nomor rekening itu digunakan untuk modus penipuan. Ketika saya ingin melengkapi berkas, saya berpikir kembali untuk mengikhlaskan uang saya, lagipula dengan saya bekerja, saya tidak punya waktu untuk mengurus hal tersebut karena butuh dua hari libur dan saya pikir akan mubazir menggunakan hak cuti saya hanya untuk hal seperti itu. Toh pada prinsipnya, saya selalu berpikir "Harta, Jodoh, Rezeki, Hidup, dan Mati itu sudah diatur oleh Allah, tidak akan hilang kalau memang tidak seharusnya untuk hilang, tidak akan tertukar dengan milik orang lain." Akhirnya, dengan mencoba mengikhlaskan, saya tidak mengirimkan data tersebut. Saya juga tidak ingin bermain-main dengan hukum. Saya tidak mau nama saya ada di catatan hukum selain untuk akta kelahiran dan kelakuan baik. Dan saya tidak ingin merepotkan orang lain, hanya karena masalah uang yang memang mungkin seharusnya saya amalkan. Tidak penting, bukan? Tidak berapa lama, dari pihak bank menghubungi saya dan berniat untuk memediasikan saya dengan yang punya rekening. Dikatakan bahwa No. Rekening X diblokir atas pelaporan dari saya. Sedangkan saya tidak pernah melengkapi berkas pemblokiran dan hal itu tidak mungkin membuat rekening tersebut diblokir, kecuali dengan adanya pelaporan dari orang lain atas rekening tersebut selain kita. Kita harus cerdas dalam bersikap. Namun, sekalipun begitu, saya dengan senang hati menyambut niat baik tersebut agar urusan saya selesai. Namun si empunya rekening tidak mengangkat. Sekitar beberapa kali menelfon, si X tidak mengangkat. Yasudah saya pikir toh saya juga sudah mengikhlaskan.. Sampai akhirnya ada beberapa waktu saya dihubungi oleh pihak bank. Dilalahnya, selalu di waktu yang saya tidak bisa angkat. Dikantor ketika sedang ada pekerjaan, atau sedang istirahat dan hanphone saya tinggal, selalu ada alasan (karena pekerjaan) maka dari itu saya tidak bisa angkat. Dan saya tahu bahwa Allah mengatur memang saya untuk tidak mengangkat telefon, kalau tidak, kasus kedua tidak akan terjadi. 
I am seeking to resolve a problem if exposed cases of online fraud on the internet. Maybe you can look for it, and the result is mostly advised to block the account number where we send our money. I blurted, feeling aggrieved, of course report to the relevant bank of the account number in the name X. But it was not the end because I have to send some files to block the account. I, at that moment, just reported that the account number was used for scams. When I wanted to complete the file, I tried to let over my money, and besides with my work, I didn't  have time to take care of it because it took two days off and I thought it would be redundant to use my day off only for things like that. Yet in principle, I always thought "Treasure, Relationship, Sustenance, Life, and Death had been arranged by God, that will not be lost if it is not supposed to be lost and it will not be exchanged with anyone else's". Finally, by trying to let over it, I did not submit data. I also do not want to easily play with the law. I do not want my name in addition to the legal records and a birth certificate of good conduct. And I do not want to bother other people, just because of the money that was probably supposed to be my charity. Not important, isn't it? Few weeks after, it's the bank contacted me and asked to mediate me with the account's owner. It is said that X's account was blocked on reporting from me. While I was never complete the file blocking, and it was not possible to make such an account is blocked, except there are other people reported on the account as well. We have to be smart in this kind of situation. But even so, I was happy to welcome the good intentions. But the owner of the account is not raised the phone call. We called around a few times, the X is not lifting. Well, I think i already forgot and not to be bother by that case .. Until finally there's some time I was contacted by the bank. Unfortunately, the calls always on time I could not lift. At the office when you're  work, or taking a break and live my cell phone in the office, there is always a reason for not lifted it.And i knew that Allah arranged it for me to not lift the phone call. Otherwise, the second case would not happen.
teknisnya, kasus yang menimpa saya kurang lebih seperti ini. Pada kasus saya, Silvia adalah X. Penipu adalah Yosua.

2. Kasus Kedua
Ada satu orang yang mencoba menghubungi saya, mari kita sebut saja namanya Z. Si Z ini mengaku sebagai korban dari Yosua dan bertanya tentang saya secara detail. Dilalahnya, Z mengaku sebagai kakak dari salah satu teman sekolah saya di SMP. Setelah mencari bentuk muka teman saya dan melihat muka yang serupa dengan Z, saya yakin Z adalah kakak dari teman saya. Awal dari percakapan kami mengatakan bahwa Z sudah pernah konferensi dengan X dan beberapa orang lainnya yang menyatakan sebagai korban dari Yosua. Dia menanyakan mengapa saya tidak mengangkat telefon dan meminta saya untuk mengirimkan bukti percakapan saya dengan Yosua, bukti pengiriman uang saya dan sebagainya. Z mengatakan kalau X berjanji mau mengirimkan uang kembali 50:50, tapi masih tertahan karena pemblokiran rekening karena pelaporan saya. Ternyata, para korban dari Yosua sudah membuat sebuah grup di media sosial. Dengan berani saya meminta untuk diundang ke grup itu, dalam artian agar pengiriman bukti percakapan hanya sekali dan tidak terus-terusan meladeni banyak orang yang nantinya akan menyusahkan saya. Sampai diundang, saya memperkenalkan diri dan mengirimkan seluruh bukti yang ada. Dengan maksud baik menyatakan saya adalah korban, di grup itu ternyata terbalik. Saya dipojokkan. Status saya double saat itu, sebagai korban dari penipu dan korban dari korban si penipu. Saya seorang diri. Meladeni hujatan, fitnahan dan berbagai pertanyaan yang memojokkan saya, termasuk hujatan dari X, yang merasa dirugikan karena rekeningnya diblokir dan (katanya) karena pelaporan atas nama saya. Diancam saudara salah satu dari mereka adalah polisi. Lalu apa? Kalian mengutarakan itu sebagai informasi atau apa? Untuk apa? kalau sebagai informasi, oke terima kasih. Tapi kalau ada niatan lain, siapa namanya? Siapa tahu saudara saya kenal dengan saudara kalian. Pekerjaan saya dipertanyakan, memangnya HRD selalu sibuk 24 jam sampai tidak bisa angkat telfon? Saya ditanya kerja dimana? Mereka mau datang menghampiri. Silahkan. Tempat kerja saya adalah Rumah Sakit, dan yang kita tahu, rumah sakit terbuka untuk umum. Kalau kalian datang, ya berarti kalian sedang tidak sehat. Se-simpel itu. Untuk pekerjaan saya, hm, jelas kalian tidak tahu betapa sibuknya, yang satu pekerjaannya sebagai tukang jual pulsa, yang satu adalah ibu rumah tangga. Beda memang beban kerjanya. Dan yang paling penting, saya tidak pernah mempertanyakan kalian sibuk atau tidak, tidak pernah meremehkan pekerjaan kalian. Tapi Balasannya?. Seumur hidup saya, tidak pernah terbesit satu keinginan atau niatan untuk jahat pada orang apalagi orang yang saya belum pernah tahu atau kenal. Naudzubillah. Termasuk memojokkan, fitnah, dan sebagainya. Mudah-mudahan saya selalu dilindungi Allah dari penyakit hati dan prasangka buruk semacam itu. Naudzubillah. Dengan berjalannya kasus dua dimana saya menjadi korban ini, saya mendapatkan informasi dari salah seorang teman saya yang berkuliah di Bandung, tentang pencemaran nama baik saya. Muncullah kasus ketiga..
The Second Case
There was one person trying to contact me, let's call her Z. Z is claimed to be a victim of Yosua and asked about me in detail. Z claimed to be a sister of one of my school friends in junior high. After googled the face of my friend and saw her face similar to Z, I believe Z is the sister of my friend. The beginning of our conversation was that Z did the conference call with X and some other people who claimed to be victims of Yosua. She asked me why I didn't lift the phone and asked me to send the evidences of my conversation with Yosua, the proof of payment and others. Z said that if X promised to send money back 50:50, but still held back by blocking account because of my report. Surprisingly, the victims of Yosua had made a group on the social media. I boldly ask to be invited to the group, in order to send the evidence conversation only once and not constantly serve a lot of people who will bother me. I introduced myself and send all the available evidence. With good intentions stated I was the victim, turns out the group treated me with unexpected deal. I'm cornered. I was in double status at that time, I became the victim of fraudsters and victim of the victims of the fraudster. I was alone. Dealing with blasphemy, slander and discredit me various questions, including the blasphemy of X, which feels aggrieved because his account is blocked, and (she says) for reporting on my behalf. She threatened me by said one of her relations is policemen. So what? You describe it as information or what? What for? if as information, okay thanks. But if there are other intentions, what was his name? Who knew my brother know your brothers. My work is questionable, "does HRD staff always busy 24 hours until you can't lift the telephone?" I was asked where i work? They want to come over. Please. My workplace is a hospital, and we know, the hospital is open to the public. If you come, it means you're not in healthy condition. As simple as that, man. For my work, well, obviously you do not know how busy i am. One of you has a job as a handyman selling pulses, and the other one is a housewife. There are different workload, indeed. And most importantly, I never question you are busy or not, never underestimate your work. But what was the response? All my life, never ever in my mind has a desire or intention to do mean thing to others especially to those who I had never heard or known. Naudzubillah. Including discredit, slander, and so on. Hopefully I have always protected by Allah from bad thoughts and prejudice of the kind. Naudzubillah. With the passage of the two cases in which I am a victim, I am getting information from one of my friends who studying in Bandung, about the defamation of me. Here comes the third case


this is Yosua forcing me to give my KTP so X's bank account could be unblockired.

3. Kasus Ketiga
Bagi saya, pencemaran nama baik adalah kasus yang paling kekanak-kanakan yang terjadi namun yang paling bikin senewen. Orang tua meberikan nama yang baik, dengan maksud baik. Namun ketika nama kita jadi buruk, bagaimana tidak sedih karena bayang-bayang orang tua yang langsung muncul dibenak saya. Saya tidak terima, karena mencemarkan nama saya berarti juga menjelekkan orang yang memberikan saya nama. Seiring berjalan saya dengan sabar meladeni X, teman-teman baru X, dan Z, saya mendapatkan pesan dari teman saya bahwa ada yang mengirimkan dan menanyakan saya dan memfitnah dan menuduh saya sebagai pencuri online dan saya sedang dikejar-kejar polisi. Dan ketika saya melihat fotonya, orang yang mencoreng nama baik saya, memfitnah, menyebar luaskan informasi palsu hanya berdasarkan pandangan subjektif adalah Z. orang yang saya pikir paling dewasa menghadapi masalah seperti ini, orang yang berusaha baik tapi ternyata.. bisa dibilang apa? Muka Dua? Nama saya sudah buruk sampai pada beberapa orang yang saya bahkan tidak kenal itu siapa. Coba dipikir, mana ada penipu yang mudah sekali di cari identitasnya di media sosial. Kamu, punya otak kan(?). Setelah mengklarifikasi, Z menuduh karena nomor rekening saya disebarluaskan oleh Yosua untuk melakukan penipuan. Lalu bukannya disitu saya yang sebagai korbannya? Memangnya kamu mengirimkan uang ke rekening saya? HAH?! Saya yang korban, saya yang dijelekkan, nomor rekening saya digunakan untuk penipuan, lalu bisa-bisanya kamu masih memfitnah saya? menyebarluaskan nama saya, mengecap saya sebagai penipu? Mudah-mudahan Allah selalu melindungi saya dari orang-orang tak bernorma tak beretika seperti kamu. Aamiin. Setelah itu, saya mengecek buku tabungan saya dan tidak ada uang transferan sepeserpun kerekening saya dari orang yang saya tidak kenal wujudnya. Sekali lagi, Allah Maha Baik. Allah Maha Adil. Allahu Akbar. Hari itu, saya langsung tutup buku rekening saya dan sekali lagi, sesungguhnya keadilan akan datang pada orang-orang yang jujur. Setelah itu saya meminta Z untuk melakukan pembersihan nama saya atas apa yang sudah diperbuat, namun sampai sekarang belum ada kiriman bukti dia menyatakan permintaan maaf pada teman-temannya kalau dia salah sudah menuduh saya. Tidak apa, karma itu ada. Mudah-mudahan. Hal yang paling menyakitkan yang Z lakukan adalah menanyakan: "Ci coba kamu pikir lagi, mungkin kamu ada masalah sama temanmu sampai kena kasus begini?" (kurang lebih pertanyaannya seperti itu. Demi apapun, saya tidak kenal kamu, dan siapa kamu berhak menilai perilaku saya ke teman saya? Siapa kamu berhak menilai berapa jumlah teman saya? Mohon untuk melakukan introspeksi diri sebelum berbuat. Saya tidak pernah memfitnah, menyakiti hati kamu, atau bahkan Yosua dan si X, menyebarluaskan nama kalian penipu. Tapi balasannya? Mudah-mudahan kamu, keluargamu, dan anak keturunan kamu tidak akan merasakan sakit yang dirasakan saya karena fitnah, cacian dan hujatan. Amin. Saya doakan.
The Third Case
For me, defamation is the most childish but most make skittish case. My parent gave the good name, with good intentions. But when our name becomes bad, how could you not sad because the thought of your parents who immediately comes to mind. I can't accept, for defaming me means also vilify people who give me the name. As I patiently read the bad texts from X, the friends of X and Z, I got a message from my friend that there are some people sending and asked about me and slandered and accused me of being an online thief and said that I was chased by the police. And when I saw the picture of the sender, people who tarnish me, defamatory, disseminate false information is only based on subjective views, none other than Z. A person I think the most mature in facing problems like this, but turns out .. you could say what? Two face? I had a bad name to the few people I do not even know. After clarifying, Z accused because my account number is distributed by Yosua to commit fraud. Then was it me become a victim? Instead of it you just said to everybody that i am the fraud? Did you send the money to my account? HUH?! I am the victim here, my name was disfigured, my account number used for fraud, then how could you still malign me? disseminate my name, incriminate me as a cheater? Hopefully Allah always protects me from people who is not normed unethical like you. Aamiin. After that, I checked my savings book and no money was transfered to my bank account from anyone. Again, Allah is good. Allah is infinite justice. Allah is the Greatest. That day, I immediately closed my account books and once again, true justice will come to those who are honest. After that I asked Z to clear my name for what has been done, but until now there has been no evidence submissions she stated apology to her friends that she had accused me wrong. Karma does exist, mam. The most painful thing that Z asked was: "Ci, try to think of it, maybe you have some problem with your friend so you got involve with a case like this?" (More or less the question like that). For the sake of anything, I do not know you, and who are you to judge my behavior to my friends? Who are you entitled to assess how many friends i have? Do i know you? Do you know me? We have to do self-introspection before we act. I never defame, offend you, or even Yosua and that X, spreading your name crook. But in return? Hopefully you, your family, and your descendants will not feel the pain that I felt for slander, insults and attacks. Amen. I pray for you.

 this belongs to one of Z's friends. my friend sent me this conv. 

4. Kasus Keempat
Saya sempat menceritakan ke beberapa teman saya tentang masalah saya, mereka sangat-sangat membantu saya. Jujur, masalah ini mungkin tidak akan selesai kalau tidak ada mereka. Sampai pada masa dimana salah satu teman saya, Aulia meladeni kelakuan busuk Yosua dan Yosua mengirimkan kata-kata kasar kepada teman saya dan melakukan tindakan buruk. Yosua memajang foto Aulia di id Line nya, sehingga orang-orang akan mencari muka aulia dan mengkambing hitamkan Aulia sebagai pelaku. Demi Tuhan, Aulia adalah teman saya, sahabat baik saya dan kalau kalian membaca ini, tolong report as spam si Yosua. Mudah-mudahan dengan cara seperti ini, nama Aulia akan bersih tanpa hinaan, hujatan. Saya berhutang budi, sangat, kepada Aulia. Maaf ya Wud :"(
The Case Number Four
I have told to some of my friends about my problems, they are very, very helpful. They helped me, they support me unconditionally. Honestly, this may not meet the end if there is no them. One of my best friends, Aulia, served bad behavior of Yosua. Yosua sent harsh words to my friend and doing bad actions. Yosua put pictures on id Line, the photo of Aulia, so that people will seek the face aulia and scapegoat Aulia as perpetrators. For God's sake, Aulia is my best friend, my good friend and if you are reading this, please report as spam that bad guy Yosua. Hopefully this way, the name of Aulia will clean without insults, blasphemies. I am indebted, highly, to Aulia. I am so sorry Wud :"(

this conversation was happen between Yosua and Aulia.
in case you don't believe that she is my bestfriend..

5. Kasus Kelima
Salah seorang pengikut instagram Yosua, melakukan tindakan seperti yang syaa lakukan ketika menyadari saya terkena tipu. dengan cara komen di instagram mengutarakan kalau dia penipu. Lalu pengikut ini, sebut saya namanya A, diblock oleh Yosua, dan tiba-tiba Yosua menghubungi saya mengancam. Terserah. Dengan A pun saya tidak kenal. Dan lagi-lagi, tidak hanya korban Yosua yang memfitnah saya, tapi Yosuanya secara langsung pun memfitnah saya yang jelas-jelas adalah korbannya. Y U SO STUPID?! Mudah-mudahan Tuhan membalas setara dengan perilaku yang sudah dilakukan oleh Yosua, aamiin.
The Case Number Five
One of instagram followers of Yosua, acted as I did when I realized I was deceived. with commented in instagram expressed that Yosua was an impostor. Then this girl, I call her name A, was blocked by Yosua, and Yosua contacted me after blocked me, suddenly. He threatened me. Whatever. As so you know, i didn't know this A, man. And again, not only the victim Yosua slandering me, but this Yosua directly malign me who obviously is the victim. Y U SO STUPID? Hopefully the Allah replies similar to the behavior that has been carried out by Yosua, Aamiin.



this conversation when Yosua suddenly chat me again after blocked me and already use my friend's photo as his id line photo. ERGH

Itu lima kasus besar yang saya alami. Tidak menjadi kasus seorang diri karena teman saya ikut dilibatkan kedalam situasi dimana dia yang dirugikan. Dan karena itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena melibatkan dia.
That is the big five. The big five cases that i faced. Well, this is not fully my case because my friends are involved into situation where they are disadvantages. And because of that, I apologize profusely because it involves them, especially Aulia.

Saya mempercayai "Apa yang menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu" . Setelah itu pihak bank menghubungi saya untuk memediasikan saya dengan si X. disitu saya menjelaskan secara terus terang kepada pihak bank dan si X. Saya sangat bersyukur karena pihak bank tentu saja bisa melihat secara objektif dan membela saya (karena saya memang tidak bersalah!). Pihak bank membantu menyelesaikan masalah saya dan X. Saya baru tahu dari pihak bank, ternyata pemblokiran terjadi karena ada beberapa orang yang melaporkan untuk pemblokiran, tapi karena saya orang pertama  yang berani mengambil tindakan untuk menghubungi pihak bank, pertama kali, maka dari itu rekening masih diblokir atas nama saya. Yang saya selalu yakini dalam hidup,
I believe in "what belongs to you will be still belong to you". After that, bank's customer service contacted me to mediate me with this X. I explained detailly, honestly, nothing more, nothing less to them. I felt really relieved because the bank's customer service could see this incident objectively and defend me (and because i was not wrong!). She helped me to clear up the problem with X and i was just informed, the blocking of the X's account occurs because of there are some people reported it to be blocked, but because i am the first who bravely took an action to call the bank, for the first time, so that account was still in blocking periode because of me. Things that i always certainly sure in life is, 

Jangan sekalipun kamu menyerah atas suatu usaha. Jangan pernah menyerah
Do not ever give up. Never ever ever ever give up!

Kasus ini selesai dengan dikembalikannya uang saya sebesar yang sudah saya kirimkan. Disini saya mengatakan kepada kalian yang membaca post ini, saya mengatakan kepada pihak bank, kalau suatu saat nanti nama saya dicemarkan lagi karena perilaku X, atau teman-teman dari X, saya akan mengambil tindakan. dan pihak bank dengan senang hati akan membantu. Tapi saya berharap semua masalah selesai setelah saya memposting post ini.
This case is closed by the refund of my money. Here i tell you guys, who read my blog post, i tell to the bank's operator, if one day, my name is stained again because of X, or her friends, i will bravely take action to the law. And from the bank's side will gladly help me, they happy to assist me. But i hope, all of this problem will be clear after i post this. 

Sekali lagi, dengan post ini, saya tidak bermaksud menyalahkan, merugikan, atau menjelekkan nama orang lain. Saya hanya ingin menyelesaikan masalah ini, menceritakan kasus ini, dengan sebenar-benarnya. Anyway, thank you for those who voluntary helped me, supported me, gave me strength with those kind words, with those hugs and kisses. That really means a lot for me. Seriously, i love you guys (who i couldn't say the name one by one here). Once again, Thank you so much and Alhamdulillah :)
Once again, with this post, i didn't mean to blame, hurt, harm other people. I want to clear this problem by telling this case, in honest way. nyway, thank you for those who voluntary helped me, supported me, gave me strength with those kind words, with those hugs and kisses. That really means a lot for me. Seriously, i love you guys (who i couldn't say the name one by one here). Once again, Thank you so much and Alhamdulillah..

P.s for everyone and a reminder for myself. 

Mind your own business. Haters still gonna hate.

No comments:

Post a Comment